
dia suka apel merah, saya suka apel hijau, kita sama sama suka apel
2010:
Satu gigitan apel di genggaman tangan kiri nan mungil itu, saya perhatikan wajahnya nampak begitu serius membaca buku. Disebelahnya, tepat saya duduk ada sebuah kursi kayu yang berornamen bunga teratai, pukul 13.20 setiap kali barisan gigi kecilnya nampak jelas saat tertawa, dia begitu manis bagi saya.
Hampir setiap hari saya memperhatikan dia, ada potongan-potongan hal sederhana padanya yang amat menarik perhatian saya, mulai dari kesukaannya pada apel merah, sweater putih yang ia pakai, sampai sepatu nike hitam bergaris putih, dan jam tangan di pergelangan tangan kirinya, begitu menarik.
Pukul 14.00, saya merogoh sesuatu didalam tas kecil yang saya bawa mengeluarkan sepotong buah apel hijau kecil yang nampak segar, ia melihat ke arah saya sambil tersenyum, memperhatikan tiap gigit apel hijau yang saya makan:
“tidak banyak orang yang suka apel hijau, terutama cewek loh” katanya
“ya saya tahu, tapi rasanya unik, itulah saya suka” jawab saya seadanya
“kamu lucu, pribadi yang antimainstream ya?”
“eh bukan begitu, saya memang suka apel hijau, bukan karena antimainstream tau” balas saya
“benarkah? apa enaknya apel hijau ?” ia mengernyitkan dahi
“tidak banyak yang suka memang, rasanya tidak begitu menarik bagi kebanyakan orang, saya menyukai apel hijau mungkin sama seperti kamu yang suka apel merah”
“tapi apel merah rasanya enak” balasnya
“tapi apel hujau juga begitu bagi saya” saya mulai meruncingkan bibir pertanda tidak suka jika kami berdebat
“kamu suka apel hijau, saya suka apel merah, yang penting sama-sama apel” katanya sesambil tertawa manis
“ya benar! yang penting sama-sama apel” timpal saya
“kamu lucu” katanya lalu melanjutkan melahap apel merah kedua ditangan kirinya.
:: cara setiap orang memandang segala hal mungkin saja berbeda tapi itulah yang bisa saja membuat kita menarik di mata orang lain, seperti apel merah dan apel hijau di siang hari itu.
